LSF : Film Ice Cold Hanya Fiksi, Tak Bisa Jadi Rujukan Kasus Hukum

Dewuna.com – Kasus Mirna Salihin yang tragis dan menggemparkan Indonesia kembali menjadi sorotan publik, kali ini melalui film “Ice Cold” yang ditayangkan di platform streaming Netflix. Film ini telah memicu berbagai reaksi dan polemik di kalangan penonton, termasuk tanggapan dari Ketua Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSM), Rommy Fibri Hardiyanto.

Rommy Fibri Hardiyanto, dalam tanggapannya terhadap film ini, menyatakan bahwa sepanjang film tersebut bukanlah dokumenter, maka harus dianggap sebagai fiksi. Bahkan dalam film dokumenter pun, sudut pandang yang dihadirkan bisa sangat subjektif tergantung pada narasumber yang digunakan.

“Dalam sebuah film, tak bisa dijadikan rujukan sebuah kasus. Film tak bisa langsung otomatis bertentangan dengan kasus hukum. Karena yang membuat adegan di dalam film adalah versi dari pembuatnya,” ujar Rommy seperti dikutip dari channel9.id

Rommy juga menekankan bahwa menilai sebuah film tidak boleh dianggap sebagai fakta hukum. Meskipun film mungkin berisi banyak rekaman persidangan, fakta hukumnya tetap merupakan cerita tersendiri.

Ia menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh penyidik kepolisian dan yang disajikan oleh jaksa di pengadilan adalah yang menjadi fakta hukum. Selama tidak ada fakta baru yang berbeda dengan apa yang telah diputuskan oleh pengadilan, terutama jika sudah sampai pada tingkat Kasasi di Mahkamah Agung, maka film hanya menjadi interpretasi subjektif.

Menurut Rommy, film “Ice Cold” lebih pada perdebatan mengenai versi masing-masing pihak yang terlibat dalam kasus ini. Hal ini bisa menjadi menarik, tetapi berbeda dengan karya jurnalistik investigasi yang mampu menghadirkan fakta-fakta baru. Fakta-fakta baru tersebut dapat menjadi dasar untuk membuka kembali sebuah kasus hukum.

“Berbeda misalnya karya jurnalistik liputan investigasi yang mampu menghadirkan neo factum, atau fakta baru. Itu pun hanya menjadi catatan saja. Tidak otomatis bisa membuka (menggugat) putusan pengadilan. Kasus hukum bisa dibuka kembali jika ada temuan fakta baru,” ujar mantan wartawan Majalah Tempo ini.

Dalam konteks ini, Rommy menegaskan bahwa sutradara film dapat memunculkan interpretasinya sendiri, dan narasumber dalam film juga memberikan versi mereka masing-masing.

Penting bagi penonton, terutama mereka yang terlibat dalam polemik setelah menonton film “Ice Cold,” untuk dapat membedakan antara fakta hukum sebagai realitas yang utuh dengan representasi dalam film yang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda.

Film ini membuka ruang untuk masyarakat untuk berdiskusi dan merenungkan kembali kasus yang telah lama berlalu, tetapi harus diingat bahwa putusan pengadilan adalah yang memiliki bobot hukum tertinggi. (Pr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *