Kemandirian Produksi Garam Sudah Waktunya

Oleh: Maya Latief

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun sentra garam di sejumlah daerah. Pembangunan sentra garam ini dilakukan untuk merealisasikan target setop impor garam pada 2024, sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan sudah melakukan inventarisasi di beberapa daerah untuk dijadikan sebagai daerah sentra garam.

Ini tentunya baik bagi dunia usaha, karena permintaan garam di Indonesia masih mengandalkan impor. Penyebabnya karena produksi petani garam dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan di dalam negeri yang jumlahnya terus meningkat.

BPS mencatat volume impor garam Indonesia mencapai 2,83 juta ton dengan nilai US$107,5 juta sepanjang 2021 atau sekitar Rp1,5 triliun. Volume impor garam tiap tahun meningkat diperkirakan mencapai 3 juta ton pada 2022.

Rencana pemerintah menghentikan impor garam tentu pantut kita apresiasi. Bahkan proposal terbuka yang disampaikan KKP untuk mengajak daerah yang memiliki potensi akan dijadikan sentra garam, merupakan peluang yang harus disambut pengusaha maupun pemerintah daerah yang memiliki batas wilayah dengan laut.

Ironis memang Indonesia sebagai negara kepulauan justru mengimpor garam. Apalagi garam merupakan kebutuhan pokok di dapur yang kebutuhannya sangat tinggi.

 

Penyebab masih impor garam

Mari kita lihat apa penyebab tingginya impor garam. Ada beberapa catatan. Meskipun wilayah Indonesia terdiri dari kepulauan dan berada di daerah tropis tapi ternyata tidak semua tempat sesuai untuk produksi garam, selain itu luas lahan petani garam yang terbatas dan pengaruh cuaca di musim penghujan. Standar garam produksi rakyat juga belum semua memenuhi spesifikasi kebutuhan garam industri dan rumah tangga.

 

Keuntungan

Saya melihat keputusan penghentian impor garam sebagai langkah positif yang mendukung pertumbuhan industri garam dalam negeri dan berpotensi memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian Indonesia.

Penghentian impor garam memiliki beberapa keuntungan.

  • Dengan mengandalkan produksi garam dalam negeri, Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya terhadap impor garam dari negara lain.
  • Meningkatnya permintaan garam dalam negeri akan mendorong petani untuk meningkatkan produksi mereka. Hal ini dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan petani garam, serta berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah pesisir yang bergantung pada sektor ini.
  • Mendorong pengembangan teknologi dan inovasi industri garam dalam negeri sehingga dapat meningkatkan daya saing industri garam di pasar global dan membuka peluang ekspor yang lebih besar di masa depan.

 

Tantangan

Namun demikian, harus juga diakui bahwa ada tantangan yang perlu dihadapi dalam menghentikan impor garam sepenuhnya. Salah satunya adalah memastikan bahwa produksi garam dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri yang terus meningkat. Diperlukan dukungan pemerintah dalam hal pembinaan petani garam, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan akses terhadap teknologi dan sumber daya yang dibutuhkan.

Selain itu, penting juga bagi pemerintah untuk memastikan adanya kebijakan yang adil dan berkelanjutan untuk industri garam dalam negeri. Ini termasuk mengatasi masalah seperti peningkatan biaya produksi, persaingan yang tidak seimbang dengan garam impor yang lebih murah, dan perlindungan terhadap praktik perdagangan yang tidak adil.

Secara keseluruhan, penghentian impor garam oleh Presiden Jokowi adalah langkah yang strategis dalam mendukung kemandirian pangan, pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan industri garam dalam negeri.

Wassalam.

Muna, Rabu 28 Juni 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *