Kejati Sultra Tetapkan Tersangka Baru Dugaan Korupsi Pertambangan di Konut

Kejati Sultra Tetapkan Tersangka Baru Dugaan Korupsi Pertambangan di KonutDewuna.com – Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara (Kejati Sultra) kembali menetapkan satu tersangka baru dalam dugaan tindak pidana korupsi yang terkait dengan operasional pertambangan nikel di salah satu wilayah Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Sultra, Ade Hermawan, mengumumkan dalam keterangan resmi di Kendari pada Selasa, bahwa tersangka baru yang berinisial WAS merupakan pemilik perusahaan tambang nikel PT LAM.

“Setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi hari ini, pada Selasa, 18 Juli 2023, WAS ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di rutan selama 20 hari oleh penyidik. Penahanan akan dilakukan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung, dan dalam waktu dekat akan dipindahkan ke Kendari untuk proses penyidikan,” ungkapnya.

Ade menjelaskan bahwa pemilik PT LAM dengan inisial WAS telah diperiksa di gedung bundar Kejaksaan Agung oleh penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Pemeriksaan tersebut dilakukan terkait kasus dugaan korupsi dalam penambangan bijih nikel di wilayah Kabupaten Konawe Utara.

Lebih lanjut, Ade menjelaskan bahwa kasus dugaan korupsi tersebut berawal dari kerja sama operasional (KSO) antara PT A (Antam) dengan PT LAM, serta Perusda Sultra/Perusda Konawe Utara.

Ia menyatakan bahwa WAS sebagai pemilik PT LAM diduga memperoleh keuntungan dari tindak pidana korupsi dalam pertambangan nikel dengan menjual hasil tambang nikel di wilayah IUP PT A. WAS diduga menggunakan dokumen rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dari PT KKP dan beberapa perusahaan lain di sekitar Blok Mandiono, dengan mengesankan bahwa nikel tersebut bukan berasal dari PT A, dan menjualnya ke beberapa pabrik smelter di Morosi, Kabupaten Konawe, dan Morowali, Sulawesi Tengah.

“Aktivitas kejahatan ini terus berlanjut karena adanya pembiaran dari pihak PT A,” ujar Ade.

Menurut Ade, berdasarkan perjanjian KSO, semua bijih nikel hasil penambangan di wilayah IUP PT A seharusnya diserahkan ke PT A, sedangkan PT LAM hanya berperan sebagai kontraktor pertambangan yang menerima upah. Namun, pada kenyataannya, PT LAM menggunakan 39 perusahaan kontraktor tambang untuk melakukan penambangan bijih nikel dan menjual hasil tambang dengan menggunakan dokumen RKAB palsu.

Sebelumnya, Kejati Sultra telah menetapkan empat tersangka dalam pengungkapan kasus ini. Mereka adalah GM PT A dengan inisial HW, Direktur PT KKP dengan inisial AA, Pelaksana Lapangan PT LAM dengan inisial GL, dan Direktur PT LAM dengan inisial OS. Dari keempat tersangka tersebut, GL dan HW telah ditahan di Rutan Kelas IIA Kendari setelah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, Direktur PT LAM dengan inisial OS telah ditangkap di Jakarta dan ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung.

Kejati Sultra terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap keterlibatan pihak-pihak lain yang terkait dalam kasus dugaan korupsi pertambangan di Kabupaten Konawe Utara. (Pr)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *