Cadangan Nikel RI Diprediksi Habis 6 Tahun Lagi

Dewuna.com – Cadangan nikel di Indonesia semakin menipis dan diprediksi akan habis dalam waktu 6 tahun. Salah satu penyebab utama dari penurunan cadangan nikel di Indonesia adalah maraknya pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter).

Dikutip dari Channel News Asia pada Minggu (29/10), Asosiasi penambang sebenarnya sudah beberapa kali memperingatkan tentang persoalan ini kepada Pemerintah Indonesia. Mereka juga mempertaruhkan kekurangan bahan nikel ini dengan digunakan untuk membuat baja tahan karat.

Bijih nikel dengan kandungan di atas 1,7 persen digunakan untuk memproduksi Nickel pig iron (NPI), yang merupakan bahan baku penting untuk baja tahan karat. Sementara bijih nikel dengan kandungan di bawah 1,7 persen digunakan sebagai bahan baku utama untuk baterai kendaraan listrik.

Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia, menyatakan bahwa pemerintah perlu segera mengambil tindakan komprehensif untuk memastikan ketahanan cadangan nikel. Ini penting untuk mempertahankan strategi hilir dan meningkatkan nilai tambah dalam industri ini.

Lengkey juga mengungkapkan bahwa penambangan dan peleburan nikel merupakan bagian integral dari ekonomi Indonesia, dengan miliaran dolar investasi global yang mengalir ke negara tersebut setelah pemerintah melarang ekspor bijih yang belum diproses pada tahun 2020.

Namun, di sisi lain, estimasi umur cadangan bijih mineral biasanya bersifat perkiraan, karena eksplorasi baru dapat meningkatkan ukuran cadangan tersebut. Selain itu, teknologi baru juga dapat meningkatkan tingkat pengambilan.

Meidy mengusulkan bahwa salah satu solusi bagi Indonesia adalah mempromosikan pengolahan bijih nikel kelas bawah secara domestik, yang dapat menjaga cadangan nikel berlangsung hingga 80 tahun ke depan.

“Salah satu solusi untuk Indonesia adalah untuk mempromosikan pengolahan domestik bijih nikel kelas bawah, yang dapat berlangsung selama 80 tahun,” ungkap Meidy.

Ia juga menambahkan bahwa masih ada daerah yang belum dieksplorasi di Indonesia yang berpotensi menghasilkan cadangan tambahan. (An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *